Medan, 13 Juni 2026, — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Pelatihan Literasi Digital dan Implementasi PP Tunas untuk Siswa dan Guru di SMP Muhammadiyah 57 Medan, Sumatera Utara, pada Sabtu (13/6). Kegiatan yang diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan siswa kelas VII dan VIII serta guru ini bertujuan membentuk generasi muda yang bijak, aman, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.
Pelatihan menghadirkan dua pembicara, yakni Alfreno Kautsar Ramadha, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, serta seorang pemerhati tumbuh kembang anak yang juga Pandu Digital Camelia Nasution, S.Sos. Acara berlangsung dalam format dialog interaktif sehingga siswa dapat bertanya dan menjawab langsung sepanjang sesi.
Kepala BPSDM Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menegaskan bahwa kehadiran negara dalam ruang digital anak bukanlah bentuk pelarangan, melainkan upaya menunda hingga anak benar-benar siap. Ia menjelaskan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak — yang dikenal dengan PP Tunas (Tunggu Anak Siap) — hadir untuk melindungi anak dari paparan platform digital berisiko tinggi.

Kami bukan melarang, tetapi menunda anak-anak untuk masuk ke ranah digital yang berisiko tinggi. Boleh, tetapi ada persyaratannya, yaitu melalui guru, wali, atau orang tua.— Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala BPSDM Komdigi
Bonifasius menyampaikan bahwa pada hari yang sama Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, juga berada di Medan untuk sejumlah agenda, sehingga tidak dapat hadir pada sesi pagi di SMP Muhammadiyah 57. Mewakili Menteri, ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus motivasi kepada para siswa untuk terus belajar menggapai cita-cita. Dalam kesempatan itu, Bonifasius turut memperkenalkan Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Komdigi, Rizky Amelia, serta jajaran narasumber yang mendampingi.
Kepala SMP Muhammadiyah 57 Medan, Zainal Arifin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya untuk menjadi tuan rumah kegiatan. Ia menyebutkan bahwa dari hampir 60 sekolah Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah 57 dipilih karena memiliki aula yang memadai untuk menampung kegiatan berskala besar.

”Kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Komunikasi dan Digital yang telah memberikan kepercayaan kepada sekolah kami untuk menjadi tuan rumah kegiatan ini” ucap Zainal.
Zainal berharap kegiatan ini menjadi momentum penguatan pendidikan digital bagi peserta didik, sekaligus memperkokoh kolaborasi antara sekolah Muhammadiyah dan pemerintah dalam menghadirkan ruang digital yang sehat dan aman bagi anak-anak Indonesia. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Pimpinan Cabang Muhammadiyah, H. Ramlan, M.A.
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar Ramadhan, membawakan paparan dengan pendekatan dialogis yang membuat siswa antusias. Mengawali sesi, ia berbagi kisah pribadinya: pada usia 27 tahun ia dipercaya menjadi staf khusus menteri termuda sejak usia 26 tahun. Menurutnya, ada tiga prinsip yang mengantarkannya ke titik tersebut, yaitu kesiapan mengabdi untuk negara, niat dan akhlak yang baik, serta keikhlasan.
Memasuki inti materi, Alfreno menjelaskan bahwa PP Tunas pada dasarnya bertujuan menunda anak di bawah usia 16 tahun untuk mengakses media sosial yang sarat risiko. Pemerintah, kata dia, menyoroti empat risiko utama yang tidak boleh menjangkau anak yang kerap diringkas sebagai "4K" .
Lebih jauh Alfreno menjelaskan 4K yakni Risiko Konten karena Anak mudah terpapar konten negatif lalu menirunya. Alfreno mencontohkan kasus pelajar yang terpapar konten kekerasan di internet hingga akhirnya melakukan perbuatan berbahaya, Risiko Kontak karena setelah terpapar konten buruk, anak rentan dihubungi pihak tak dikenal melalui direct message di berbagai platform, yang berpotensi mengarah pada manipulasi hingga penculikan, Risiko Kecanduan karena aplikasi dirancang agar membuat ketagihan. Kecanduan layar membuat anak kehilangan ruang untuk beraktivitas fisik dan bersosialisasi di dunia nyata, Risiko Komersial karena paparan iklan yang terus-menerus menumbuhkan perilaku konsumtif dan dapat menguras uang jajan maupun tabungan anak.
Melalui kuis berhadiah, Alfreno mengajak siswa berpikir kritis tentang alasan di balik penundaan akses media sosial. Ia menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah menjaga generasi penerus agar memperoleh konten yang baik, berjumpa dengan orang yang tepat, terhindar dari kecanduan, serta mampu berprestasi dan menabung.
Pemerhati tumbuh kembang anak sekaligus Pandu Digital, Camelia Nasution, S.Sos., melengkapi materi dengan paparan bertajuk "Menjadi Generasi Digital yang Bijak, Aman, dan Bertanggung Jawab". Ia mengingatkan bahwa anak masa kini hidup di tiga ruang sekaligus: rumah sebagai tempat pertama menanamkan nilai, sekolah sebagai ruang sosial, serta ruang digital yang membuka peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan.

Camelia menggarisbawahi bahwa internet membawa banyak manfaat mulai dari belajar tanpa batas, mengembangkan kreativitas, mengakses informasi, hingga membangun relasi. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua yang viral itu baik. Konten seperti hoaks, clickbait, challenge berbahaya, dan konten manipulatif kerap tampak menarik tetapi belum tentu benar atau aman.
Ia juga menyoroti bahaya nyata cyberbullying mulai dari ejekan dan penghinaan, penyebaran foto tanpa izin, hingga pengucilan di grup digital. Jika menjadi korban, Camelia menyarankan langkah sederhana: tetap tenang, jangan membalas, simpan bukti, blokir pelaku, lalu laporkan kepada platform dan orang dewasa yang dipercaya.
Anak cerdas digital bukanlah anak yang paling banyak followers, melainkan anak yang berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, dan tidak gampang terprovokasi., bersikap baik, dan mampu melindungi dirinya, jelas Camelia Nasution, S.Sos., Pemerhati Tumbuh Kembang Anak
Camelia menjelaskan bahwa aplikasi sulit dilepaskan karena dirancang untuk mempertahankan perhatian penggunanya melalui notifikasi, like dan followers, hingga sistem game dan reward. Ia juga mengingatkan bahwa jejak digital tidak mudah hilang sehingga setiap orang perlu berpikir matang sebelum mengunggah sesuatu, serta menjaga data pribadi seperti kata sandi, alamat rumah, nomor telepon, lokasi real time, dan data sekolah.
Camelia menegaskan agar anak-anak memiliki 3 kecerdasan digital yakni Cerdas berpikir dengan tidak mudah percaya berita, memeriksa sumber informasi, dan tidak gampang terprovokasi, Cerdas Bersikap dengan sopan dalam berkomentar, tidak melakukan cyberbullying, serta bertanggung jawab atas apa yang diunggah dan Cerdas Melindungi Diri dengan menjaga kata sandi dan privasi, tidak membagikan data pribadi, serta berani melapor bila ada ancaman.
Sejalan dengan semangat PP Tunas yang mengusung tagar #TungguAnakSiap, Camelia menegaskan bahwa regulasi ini bukan untuk melarang anak belajar teknologi, melainkan memastikan mereka siap dan terlindungi sesuai tahapan usia dari tahap Tunas (0–2 tahun), Bertumbuh (3–6 tahun), Berkembang (7–12 tahun), hingga Siap (13–18 tahun). Ia menutup paparan dengan lima jurus aman berinternet yakni jaga kata sandi, jangan bagikan data pribadi, pikir sebelum mengunggah, laporkan hal yang mencurigakan dan seimbangkan kehidupan daring dan luring.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan ruang digital yang sehat dan aman bagi anak Indonesia. Dalam paparannya, Kepala BPSDM Komdigi turut memperkenalkan Balai Besar Pelatihan Sumber Daya Manusia (BBLSDM) Komdigi Medan yang beralamat di Jalan Tombak, Medan, serta mengundang masyarakat, termasuk para pelajar untuk memanfaatkan beragam pelatihan digital yang tersedia di balai tersebut.
"Kalau ada yang ingin belajar dunia digital atau bertanya apa saja, silakan datang ke balai kami di Jalan Tombak. Di sana tersedia berbagai pelatihan", ajak Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala BPSDM Komdigi

Sebagai unit pelaksana teknis di bawah BPSDM Komdigi, BBLSDM Komdigi Medan menjalankan mandat pengembangan sumber daya manusia digital bagi tujuh provinsi di Sumatra melalui beragam program pelatihan. Melalui sinergi dengan satuan pendidikan seperti SMP Muhammadiyah 57 Medan, BBLSDM Komdigi Medan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat literasi digital masyarakat dan mengawal lahirnya generasi yang bijak, aman, dan bertanggung jawab di ruang digital. (FS)
Label
digital, smp 57, muhammadiyah, bijak, aman