Bogor, Literasi Digital — Kemudahan akses Artificial Intelligence (AI) generatif kini memicu ancaman baru di dunia akademik: plagiarisme gaya baru. Menghadapi tantangan ini, mahasiswa dituntut untuk memposisikan AI sebatas co-pilot atau asisten, bukan autopilot yang menggantikan nalar kritis dan integritas karya.
“Jangan mengira bahwa plagiarisme hanyalah tentang copy-paste secara utuh. Mengambil ide atau gagasan dari AI tanpa mencantumkan sumber atau atribut yang layak juga termasuk bagian dari plagiarisme,” ujar Ketua Tim Literasi Digital Segmen Pendidikan, Diah Aliefya, saat mewakili Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital membuka acara Peningkatan Literasi Digital untuk Mahasiswa Universitas Boash Indonesia dengan Tema Plagiarism say no more, AI lets Explore. di Bogor, Kamis (20/08/2026).
Berpikir kritis, lanjut Alief, merupakan kunci, jangan hanya berorientasi pada hasil instan. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah proses pencarian ini sudah benar? Apakah informasinya dapat dipercaya? Bagaimana saya menghargai karya orang lain yang saya jadikan referensi?
Alief juga menekankan, mahasiswa harus memanfaatkan AI sebagai Co-Pilot, Bukan Autopilot. “Jadikanlah AI sebagai asisten (co-pilot) yang membantu. Kendali utama (main awareness) harus tetap berada di tangan kita, jangan biarkan kita yang justru dikendalikan oleh teknologi atau AI,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa akan diberikan edukasi mengenai konsep literasi digital dan plagiarism dalam konten digital hingga pengenalan AI dalam proses produksi konten digital.
Selain isu etika akademik dan pemanfaatan AI, acara ini juga menyoroti kondisi darurat perlindungan anak di media sosial. Melalui sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), mahasiswa didorong untuk turun tangan langsung.
“Sebagai kelompok usia dewasa (di atas 18 tahun), kalian didapuk menjadi agen perubahan (agent of change) di ruang digital. Kami harap mahasiswa bisa menjadi garda terdepan untuk membimbing dan mendampingi adik-adiknya atau anak di bawah umur yang rentan menyerap informasi tanpa saringan di internet,” harap Alief.

Pada akhir sambutannya, Alief berharap setelah mengikuti kegiatan hari ini, teman-teman mahasiswa tidak hanya menyimpan ilmu ini untuk diri sendiri, tetapi juga menyebarkannya kepada teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sekitar.
“Mari kita tularkan hal-hal baik dan tingkatkan awareness masyarakat akan pentingnya literasi digital,” pungkasnya.
Kegiatan yang mengusung tema "Plagiarism say no more, AI lets Explore" ini merupakan inisiatif kolaborasi antara Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Komdigi Republik Indonesia, Relawan TIK Indonesia (RTIK), Universitas BOASH, dan PT Smaart Kreasi Digital.
Selain dihadiri 100 mahasiswa Universitas Boash sebagai peserta, turut dihadiri dan didukung oleh pimpinan kampus, di antaranya Rektor Universitas Boas, Bapak Dr. Farhan, S.T., M.T., serta Ketua Relawan TIK Indonesia, Ibu Hani Purnawanti. (lry)
Narahubung
Diah Aliefya
Tim Literasi Digital Pendidikan dan Disabilitas
Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Komdigi
Kementerian Komunikasi dan Digital
Label
pelatihan, bogor, pp tunas, komdigi, pendidikan, literasi digital, plagiarisme, keamanan digital, kecerdasan artifisial, ai, mahasiswa, bpsdm, pdbi,