Gambar: pwvbj5sEGjzzAOjCd5HfVE9EBrVRMYnlqCGnmS2m

MAKASSAR - Setiap aktivitas di internet menyisakan jejak, mulai dari informasi yang dibagikan, konten yang dilihat, hingga interaksi di media sosial. Data tersebut bukan sekadar rekaman aktivitas, tetapi juga dapat membentuk reputasi, memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, bahkan dimanfaatkan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Berbagai sisi kehidupan digital ini menjadi pembahasan dalam rangkaian sharing session di Balai Besar Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BBLSDM Komdigi) Makassar, Senin hingga Kamis, 26–29 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber, terdiri atas dua mahasiswa Universitas Hasanuddin dan dua peserta MagangHub.

Pemahaman mengenai jejak digital menjadi salah satu dasar pembahasan melalui materi Digital Footprint: Apa yang Internet Tahu Tentang Kita yang disampaikan Muhammad Rezqy Aryaputra Aliefyanto dari Universitas Hasanuddin. Ia menjelaskan bahwa unggahan, komentar, riwayat pencarian, hingga penggunaan aplikasi dapat membentuk jejak digital yang tersimpan dan berpotensi memengaruhi privasi, keamanan, serta reputasi pengguna. Jejak tersebut juga dapat memberikan dampak positif apabila dikelola dengan baik, misalnya dalam membangun citra profesional dan membuka peluang akademik maupun pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap aktivitas di internet perlu dilakukan dengan kesadaran terhadap informasi yang ditinggalkan.

Kesadaran dalam menggunakan ruang digital juga berkaitan dengan cara seseorang berpikir dan memandang dirinya. Muhammad Dzaky Dzakwan dari Universitas Hasanuddin mengangkat hal tersebut melalui materi You Become What You Think. Ia membahas bagaimana pikiran dapat memengaruhi perasaan, keyakinan, dan tindakan seseorang. Paparan media sosial yang memuat pencapaian orang lain, misalnya, dapat memicu kebiasaan membandingkan diri, menurunkan kepercayaan diri, hingga memengaruhi motivasi. Peserta diajak mengenali emosi, mengelola pikiran negatif, dan menghargai proses perkembangan diri.

Persoalan membandingkan diri kemudian dibahas lebih jauh oleh Nurul Resky Sula Idris, peserta MagangHub, melalui materi The Comparison Trap. Ia menjelaskan bahwa kehidupan yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya memperlihatkan sebagian sisi seseorang, bukan keseluruhan perjalanan maupun tantangan yang dihadapi. Jika dijadikan standar untuk menilai diri sendiri, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan perasaan tertinggal dan membuat seseorang mengabaikan potensi serta pencapaiannya. Karena itu, pencapaian orang lain sebaiknya dipandang sebagai sumber inspirasi, bukan ukuran keberhasilan pribadi. Setiap individu perlu mengenali kekuatan diri, menghargai proses, dan menetapkan tujuan yang realistis sesuai kemampuannya.

Di balik aktivitas digital dan informasi yang dibagikan pengguna, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni pemanfaatan data pribadi oleh teknologi AI. Isu ini diangkat Aan Syawaluddin Adi Putra, peserta MagangHub, melalui materi Data Kita Jadi Bahan Latihan AI: Rela atau Terpaksa?. Ia membahas bagaimana data pengguna dapat dimanfaatkan dalam proses pengembangan dan pelatihan kecerdasan buatan, serta pentingnya persetujuan yang didasari pemahaman mengenai tujuan penggunaan data. Pengguna perlu lebih cermat sebelum membagikan informasi pribadi karena data yang telah tersebar di internet belum tentu dapat dihapus sepenuhnya. Untuk mengurangi risiko, Aan mengajak peserta memilah informasi yang dibagikan, menyamarkan data sensitif, dan memeriksa pengaturan privasi pada platform digital.

Keempat materi tersebut memperlihatkan bahwa kecakapan digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kesadaran dalam meninggalkan jejak, mengelola pengaruh media sosial terhadap diri sendiri, serta memahami bagaimana informasi pribadi dapat dimanfaatkan. Melalui rangkaian sharing session ini, peserta diharapkan semakin kritis dalam beraktivitas di ruang digital dan mampu mengambil keputusan secara bijak sebelum membagikan informasi maupun berinteraksi dengan teknologi. Dengan demikian, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengabaikan tanggung jawab dan perlindungan terhadap diri sendiri.


Label
sharing session