Dari Tumpukan Angka Menjadi Dampak Nyata
Oleh: Aldi Rizal Prasetya, S.I.P., M.Sc.
Frasa data is the new oil jamak menjadi buzzword beberapa tahun terakhir. Bagi pemerintah, data is the new oil menjadi relevan mengingat pemerintah kini memiliki akses terhadap volume data yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari data kependudukan, data umpan balik masyarakat pengguna layanan, dan data lainnya. Meskipun demikian, memiliki data dengan jumlah besar tidak akan berarti apabila tidak diolah menjadi informasi yang bermanfaat. Data perlu diinterpretasikan, dikomunikasikan, dan dijadikan acuan untuk melakukan tindakan. Tanpa langkah-langkah ini, wawasan yang dihasilkan hanya akan berakhir sebagai potensi yang tidak terealisasi (unrealized potential).
Rumus Sederhana: Data + Action = Value
Dalam bukunya yang bertajuk How To Interpret Data, Nicholas Kelly memperkenalkan sebuah persamaan sederhana namun fundamental dan relevan bagi sektor publik.
Data + Action = Value.
Acap kali birokrasi terjebak pada aktivitas pengumpulan data, membuat laporan atau membuat dashboard menjadi sebuah informasi yang dibaca oleh pimpinan, namun, data yang dihasilkan dalam laporan atau dashboard belum memiliki manfaat bagi masyarakat pengguna layanan apabila belum memicu sebuah tindakan atau keputusan strategis.
Sebagai contoh, sebuah instansi layanan publik menunjukkan antrean panjang di jam tertentu. Tindakan yang diambil bisa jadi berupa penambahan loket atau penambahan petugas pelayanan. Padahal dengan interpretasi data yang tepat, barangkali dapat diketahui bahwa penyebab antrean panjang bukan pada jumlah loket atau petugas, melainkan kompleksitas formulir yang membutuhkan waktu lama untuk diisi, atau bahkan media formulir yang masih konvensional atau berbasis kertas sehingga membutuhkan proses lama untuk ditelaah dan ditindaklanjuti oleh petugas pelayanan.
Interpretasi yang tepat akan menghasilkan tindakan atau keputusan strategis, misalnya dengan melakukan digitalisasi dan penyederhanaan formulir, merancang data flow yang efisien mulai dari input - proses - output dengan melibatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Prof. Agus Dwiyanto dalam buku beliau yang berjudul Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif, dan Kolaboratif, bahwa pelayanan publik akan menjadi lebih sederhana, efisien, murah, transparan, dan partisipatif ketika kandungan TIK dalam birokrasi dapat ditingkatkan. Interpretasi yang tepat akan mengarahkan pada tindakan yang benar dan pada akhirnya menciptakan value yang dapat dirasakan oleh masyarakat pengguna layanan.
Menjadi ASN yang Menggerakkan Perubahan
Upaya mengoptimalkan data agar menjadi lebih bermanfaat melalui interpretasi dan tindakan nyata, bukan berarti menuntut setiap ASN menjadi seorang data scientist, hal mendasar yang diperlukan yaitu pola pikir analitis dan keberanian untuk mengkomunikasikan dan mendorong para pengambil keputusan untuk melakukan tindakan nyata berdasarkan data dan/atau informasi yang tersedia. Dengan demikian, pengumpulan dan pelaporan data tidak dipandang sebagai beban administratif semata, melainkan sebagai alat navigasi untuk memberikan value bagi masyarakat pengguna layanan.
Sebagai langkah penguatan kapasitas, ASN dapat memanfaatkan program pelatihan gratis dari dari Pusat Pengembangan Aparatur Komunikasi dan Digital (PusPA Komdigi), yaitu Data Driven Decision Making, Visualisasi Data, dan Data Science Fundamental yang tersedia pada platform Digital Talent Scholarship Komdigi (https://digitalent.komdigi.go.id/akademi/GTA/pelatihan). Pelatihan tersebut menjadi sarana strategis untuk membangun pola pikir analitis, meningkatkan kemampuan mengolah serta menyajikan data secara efektif, dan memahami fondasi sains data yang relevan dengan kebutuhan kerja pemerintahan. Dengan kompetensi tersebut, ASN diharapkan semakin mampu menjadikan data dan informasi sebagai dasar penyusunan rekomendasi, perumusan kebijakan, serta pengambilan keputusan yang lebih tepat, terukur, dan berdampak bagi peningkatan kualitas layanan publik.
Ketika data bertemu dengan keberanian untuk melakukan perubahan, pada saat itulah ASN menghadirkan dampak nyata bagi kemajuan. Mari jadikan setiap byte data sebagai pijakan untuk memberikan pelayanan lebih baik bagi masyarakat.
Referensi
Kelly, Nicholas. (2022). How to Interpret Data: Using Data to Improve Your Influence and Decision-Making. Kogan Page.
Dwiyanto, Agus. (2012). Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif, dan Kolaboratif. Gadjah Mada University Press.