Gambar: ITS Surabaya w

SURABAYA, 10 Juni 2026 – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mempercepat langkah dalam menciptakan ruang digital yang aman dan sehat bagi masyarakat Indonesia. Bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Komdigi sukses menyelenggarakan Workshop 3 Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang berlangsung pada 9–10 Juni 2026 di kampus ITS, Surabaya.

Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Dekan Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) ITS, Prof. Diana Purwitasari, bersama Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi, Dr. Said Mirza Pahlevi, M.Eng. Workshop ini menjadi momentum krusial bagi 40 mahasiswa terpilih untuk mengintegrasikan model AI yang telah mereka kembangkan ke dalam sebuah sistem utuh yang siap digunakan (Minimum Viable Product/MVP).

Dua Inovasi Cerdas: Deteksi Konten Negatif dan Perlindungan Anak

Selama dua hari pelaksanaan, fokus utama kegiatan diarahkan pada pemantapan dua use case atau solusi teknologi berbasis AI yang sangat relevan dengan tantangan digital saat ini:

  • Sistem Pengawas Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK): Tim mahasiswa mendemonstrasikan dasbor pemantauan ruang digital yang mampu mendeteksi dan menganalisis konten hoaks hingga ujaran kebencian secara otomatis di berbagai platform media sosial. Sistem ini juga dilengkapi dengan fitur verifikasi dan disesuaikan dengan regulasi yang berlaku.

  • Sistem Perlindungan Anak Digital (PAD): Sebuah inovasi pemeriksa konten yang dirancang khusus untuk membantu orang tua dan masyarakat. Melalui analisis teks dan visual secara cerdas, sistem ini mampu mengklasifikasikan tingkat risiko suatu konten dan memastikan kesesuaian usia, sehingga anak-anak dapat terhindar dari paparan konten berbahaya.

Validasi Langsung untuk Pastikan Sistem Akurat dan Aplikatif

Untuk memastikan sistem cerdas ini tidak hanya beroperasi secara teoritis tetapi juga tangguh di lapangan, Direktur Pengendalian Ruang Digital Komdigi, Safriansyah Yanwar Rosyadi, beserta tim turut hadir memberikan tinjauan dan validasi langsung.

Masukan difokuskan pada peningkatan akurasi deteksi, penyederhanaan alur kerja antarmuka (UI/UX), hingga perbaikan logika pengambilan keputusan AI. Salah satu upaya penting yang dilakukan pada hari kedua adalah meminimalisir fenomena halusinasi (hallucination) pada model AI, agar hasil analisis yang dikeluarkan sistem tetap valid dan tidak menyesatkan.

Dengan pendampingan intensif dari dosen, mentor, serta tim teknis Komdigi, seluruh sistem ini terus disempurnakan. Inovasi teknologi yang lahir dari talenta muda ITS ini diharapkan segera mencapai tahap finalisasi, sehingga dapat diimplementasikan secara nyata untuk mendukung pengawasan ruang digital dan perlindungan anak di Indonesia