Gambar: DSC01228

JAKARTA, 22 Juni 2026 – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) mempercepat langkah penguatan ekosistem kecerdasan buatan nasional dengan menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA). Kerja sama strategis ini resmi berjalan melalui penandatanganan Record of Discussions (RoD) untuk pelaksanaan The Project for Next-Gen AI Talent Factory (AITF).

Penandatanganan dokumen kerja sama teknis ini melibatkan Kepala BPSDM Komdigi, Boni Pudjianto, dan Chief Representative JICA Indonesia, Ms. Takeda Sachiko, serta mendapat pengawalan langsung dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Proyek hibah ini bertujuan melahirkan generasi inovator AI Indonesia yang berdaya saing global sekaligus mampu menjawab tantangan riil pembangunan nasional.

AI Bukan Sekadar Tren, Wamen Komdigi: Investasi Terpenting Adalah Manusia

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa kecerdasan buatan memegang peranan krusial bagi masa depan bangsa Indonesia. Bagi pemerintah, implementasi AI melampaui urusan adopsi teknologi semata.

"Bagi Indonesia, AI bukan sekadar kemajuan teknologi. AI merupakan penggerak strategis untuk pertumbuhan ekonomi, inovasi layanan publik, daya saing industri, dan pengembangan sosial," ujar Nezar Patria dalam sambutannya.

Ia menambahkan bahwa kunci utama keberhasilan adopsi teknologi ini terletak pada kualitas sumber daya manusia. Pemerintah menaruh perhatian besar pada pembentukan ekosistem yang inklusif dan bertanggung jawab.

Melampaui Ruang Kelas, Kepala BPSDM Komdigi Tekankan Solusi Nyata

Senada dengan Wamen Komdigi, Kepala BPSDM Komdigi, Boni Pudjianto, menjelaskan bahwa konsep AI Talent Factory lahir dari sebuah metode pembelajaran yang aplikatif dan berbasis pada praktik langsung di lapangan.

"AI Talent Factory didirikan dari sebuah keyakinan sederhana: mengembangkan talenta AI membutuhkan lebih dari sekadar pembelajaran di dalam kelas. Hal ini membutuhkan kesempatan bagi talenta muda untuk mengerjakan tantangan dunia nyata, berkolaborasi lintas disiplin ilmu, dan mengubah pengetahuan menjadi solusi praktis yang menciptakan dampak," jelas Boni.

Boni juga menekankan bahwa penandatanganan kesepakatan bersama JICA, yang diawali dengan penyusunan Minutes of Meeting (MoM) pada April 2026 serta koordinasi intensif bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Keuangan, merupakan babak baru bagi transformasi digital Indonesia.

Ekspansi Program dan Keterlibatan Raksasa Teknologi Global

Program AITF sendiri telah mengukir portofolio sukses sejak pertama kali bergulir pada tahun 2025. Pada fase awal, program ini melatih 34 peserta yang sukses membangun sistem pemetaan talenta (Digital Talent Pool) serta alat deteksi judi online untuk memperkuat perlindungan ruang digital.

Pada tahun 2026, BPSDM Komdigi memperluas skala program AITF Batch 1 dengan menggandeng tiga perguruan tinggi terkemuka: Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebanyak 98 peserta yang terlibat berhasil menelurkan berbagai inovasi AI terapan untuk kepentingan publik, di antaranya:

● Sistem penangkal disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian (DFK).

● Platform digital untuk Sekolah Rakyat dan sistem perlindungan anak di dunia maya.

● Sistem pemetaan kemiskinan dan akurasi penyaluran bantuan sosial di Provinsi Jawa Timur.

● Instrumen pemantauan serta analisis isu media publik dan media sosial.

Keunggulan utama dari ekosistem ini terletak pada kolaborasi global yang kuat. Selain mendapatkan bimbingan dari dosen dan praktisi lokal, para peserta memperoleh mentorship langsung dari para pakar internasional serta anggota diaspora Indonesia yang terafiliasi dengan lembaga dan raksasa teknologi dunia, seperti Matsuo Lab, AWS, Alibaba, IBM, Google, dan Sungkyunkwan University.

Menuju Target Implementasi Akhir Tahun

Proyek kerja sama teknis komprehensif antara BPSDM Komdigi dan JICA ini akan berlangsung selama dua tahun, mulai dari Desember 2026 hingga November 2028. Selama periode berjalan, JICA berkomitmen menerjunkan langsung para ahli AI (AI experts) mereka ke Indonesia untuk mengawal transfer teknologi, pendampingan program, hingga peningkatan kapasitas institusional.

Melalui integrasi jangka panjang ini, BPSDM Komdigi optimistis dapat mempercepat terwujudnya kedaulatan AI nasional (AI Sovereignty). Targetnya, Indonesia mampu memproduksi, mengelola, dan memanfaatkan inovasi AI secara mandiri, aman, dan bertanggung jawab untuk mendongkrak daya saing bangsa di kancah internasional. (Publikasi BPSDM Komdigi/L)


Label
bpsdm komdigi, kolaborasi, jica, next-gen ai talent factory, kedaulatan ai, aitf