Magelang - Sebanyak 44 lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan sederajat dari berbagai daerah mengikuti kegiatan sertifikasi kompetensi bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui program Digital Talent Scholarship (DTS) skema Vocational School Graduate Academy (VSGA). Kegiatan ini diselenggarakan oleh BPSDMP Kominfo Yogyakarta dan berlangsung selama tiga hari, pada 14–16 Juli 2025, di Universitas Tidar, Magelang.
Program VSGA merupakan salah satu intervensi strategis pemerintah dalam meningkatkan kesiapan kerja generasi muda di bidang digital. Skema ini menyasar lulusan SMK, D1 hingga D3 yang belum bekerja agar memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri digital, serta memperoleh Sertifikat Kompetensi Kerja Nasional dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang terlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Pada pelaksanaan di Universitas Tidar kali ini, peserta mengikuti dua skema pelatihan unggulan, yaitu Junior Mobile Programmer (JMP) dengan 27 peserta, dan Associate Data Analyst (ADA) sebanyak 17 peserta. Seluruh proses pelatihan dan sertifikasi diselenggarakan dengan standar kompetensi yang merujuk pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor TIK.
Hari pertama difokuskan pada kegiatan pembekalan dan penyamaan persepsi antara peserta, asesor LSP, dan fasilitator pelatihan. Dalam sesi ini, peserta dibekali pengetahuan mengenai struktur unit kompetensi, format asesmen, serta pengisian dokumen APL.01 dan APL.02. Tahapan ini menjadi krusial untuk memastikan kesiapan peserta tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga secara administratif dan konseptual terhadap substansi kompetensi yang akan diuji.
Hari kedua menjadi momentum inti dengan pelaksanaan uji kompetensi. Peserta diuji melalui metode berbasis asesmen kerja nyata (real work assessment), yang mencakup praktik langsung, studi kasus, wawancara, serta penilaian portofolio. Peserta skema JMP ditantang untuk membangun aplikasi mobile berbasis Android yang memenuhi aspek fungsionalitas, desain antarmuka, integrasi API, dan keamanan data. Sementara peserta ADA diuji dalam pemanfaatan SQL, data cleaning, data visualization, serta analisis berbasis logika bisnis menggunakan tools seperti Python dan Microsoft Power BI.
Hari ketiga ditutup dengan evaluasi akhir dan pengumuman hasil asesmen. Dari 44 peserta, sebanyak 36 dinyatakan “Kompeten”, terdiri dari 22 peserta pada skema JMP dan 14 peserta pada skema ADA. Hasil ini menunjukkan kesiapan SDM muda Indonesia untuk bersaing di sektor digital yang terus berkembang.
Menurut Eka Handayani, petugas standardisasi dan sertifikasi dari BPSDMP Kominfo Yogyakarta, program VSGA tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, melainkan juga penanaman softskill untuk bekal bersaing secara global. “Tujuan kami jelas, yakni melakukan upskilling dan reskilling terhadap tenaga kerja digital Indonesia agar siap bersaing di dunia kerja dan pasar global” jelasnya.
Peserta pun menyambut kegiatan ini dengan penuh antusias. Fiska Nur Azizah, salah satu peserta skema ADA, menyampaikan, “Materinya sangat relevan dengan kebutuhan industri. Pelatihannya intensif, tapi menyenangkan dan aplikatif. Saya merasa lebih siap untuk masuk dunia kerja.”
Proses asesmen kali ini melibatkan dua LSP yang kompeten di bidangnya, yaitu LSP Teknologi Digital untuk skema JMP, dan LSP Informatika untuk skema ADA. Kedua lembaga ini telah memiliki pengalaman panjang dalam sertifikasi tenaga kerja TIK dan memastikan proses berlangsung objektif, transparan, dan akuntabel.
Program VSGA juga merupakan bagian dari kebijakan demand-driven training, yakni pelatihan berbasis kebutuhan industri yang diintegrasikan dengan upaya pemerintah daerah dalam pengembangan talenta digital lokal. Universitas Tidar sebagai mitra perguruan tinggi mendukung penuh pelaksanaan kegiatan ini dengan menyediakan fasilitas laboratorium dan jaringan internet berkecepatan tinggi.
Pemerintah melalui BPSDMP Kominfo Yogyakarta akan terus melanjutkan penyelenggaraan pelatihan VSGA di berbagai titik wilayah kerja, sebagai bagian dari misi menciptakan ekosistem digital nasional yang inklusif. Peserta yang telah lulus sertifikasi diharapkan mampu menembus pasar kerja nasional maupun internasional, serta menjadi penggerak transformasi digital di lingkungan sekitarnya.