Gambar: DSC00962

Jakarta (19/05/2026) – Akselerasi adopsi teknologi Generative AI di kalangan pekerja terampil Indonesia mencapai 92%. Suatu angka capaian luar biasa, bahkan melampaui rata-rata global sebesar 75%.

Fenomena ini menjadi momentum krusial terhadap implementasi Peta Jalan AI Nasional. Oleh karenanya, perlu ada langkah konkret untuk mengawal kedaulatan digital agar pemanfaatan kecerdasan artifisial tidak hanya berorientasi pada efisiensi, melainkan menjadi pilar ketahanan nasional.

Salah satu langkah strategis itu terwujud dalam pelaksanaan forum bisnis President Club Series Vol. 2 bertajuk Strengthening National Resilience in the Era of Artificial Intelligence yang berlangsung pada Selasa (19/5) di President Lounge, Menara Batavia,, Jakarta Pusat. Agenda ini menjadi wadah dialog strategis lintas sektor sekaligus menandai kerja sama antara Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) dengan Yayasan Pendidikan Universitas Presiden melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

Talenta Digital Komponen Paling Strategis

Kesiapan manusia merupakan fondasi utama. Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa sendirian melakukan pemenuhan jutaan talenta digital di Indonesia, melainkan harus melibatkan kolaborasi aktif dengan dunia kampus, badan riset, hingga mitra teknologi global.

“Digital talent salah satu komponen yang sama pentingnya, sama strategisnya, dan bahkan menurut saya yang paling strategis dibandingkan dengan infrastruktur. Jadi mari kita kerjakan sama-sama, moga kita bisa menciptakan digital talent yang mumpuni dan kuat di masa depan,” ujar Nezar.

Manusia Pegang Kendali #Tumbuh Sebagai Pilot Utama AI

Mengutip riset dari MIT, hasil pemindaian (scan) otak menunjukkan bahwa individu yang berpikir secara mandiri memiliki kinerja otak yang sangat aktif dan bekerja secara optimal. Sebaliknya, mereka yang terlalu bergantung pada AI, seperti ChatGPT, menunjukkan tingkat aktivitas berpikir yang jauh lebih rendah atau kurang aktif

Menurut Kepala BPSDM Komdigi, Boni Pudjianto, hal ini mengingatkan kita bahwa penggunaan teknologi hanya untuk menyalin tanpa proses penalaran akan membuat manusia menghadapi risiko atrofi kognitif–kondisi kemampuan berpikir kritis yang melemah dan membeku karena otak jarang latihan. Kita harus memposisikan AI secara proporsional sebagai asisten (co-pilot), sementara otak manusia wajib tetap memegang kendali penuh di depan dan terus #tumbuh sebagai pilot utama.

“AI itu mendisrupsi kehidupan manusia. Tapi enggak boleh lupa, manusia harus tetap menjadi pemegang kendali,” ujar Boni.

“Di situ nilai manusia tetap berfungsi karena kita memiliki value yang sifatnya kebijaksanaan, etika, serta moral. Mesin itu hanya eksekusi sesuai dengan perintah kita,” tegas Boni.

Belajar dari Strategi Global Lewat AI Talent Factory

Sebagai bentuk aksi nyata yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan industri, BPSDM Komdigi terus mendorong program AI Talent Factory di lingkungan pendidikan tinggi. Program praktikal tingkat lanjut ini mendidik mahasiswa tingkat akhir maupun pascasarjana untuk langsung menyelesaikan studi kasus riil (use cases) industri, seperti sistem kontrol robotik, pemrograman model AI, hingga optimasi IoT melalui sensor pintar.

Saat ini, implementasi ekosistem tersebut telah mulai berjalan bersama Universitas Brawijaya, ITS, UGM, dan sinergi itu bertambah bersama Universitas Presiden. Melalui keterlibatan kerja sama yang erat dan berkelanjutan ini, BPSDM Komdigi berharap implementasi Peta Jalan AI Nasional dapat berjalan optimal guna mencetak para AI specialist mumpuni yang siap menjaga kedaulatan digital menuju visi Indonesia Emas 2045. (Publikasi BPSDM Komdigi/RNS/RAF)


Label
bpsdm komdigi, universitas presiden, kerja sama, perkuat, ketahanan, nasional, ai