Mengusung tema “Dari Isu ke Strategi: Menyusun Arah Komunikasi OPDis yang Lebih Terarah”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis), akademisi, media, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat strategi komunikasi advokasi yang lebih efektif dan berdampak. Fokus utama kegiatan diarahkan pada penguatan kapasitas komunikasi organisasi agar isu-isu disabilitas dapat lebih mudah dipahami publik dan mendapat perhatian pengambil kebijakan.
Kegiatan ini turut dihadiri Plt. Kepala BLSDM Komdigi Surabaya, Bagus Winarko, serta Wakil Direktur INOVASI Bidang Ekosistem Pendidikan dan Manajemen Sub Nasional, Handoko Widagdo. Hadir pula Kepala Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Kemil Wachidah, aktivis disabilitas Sunarman Sukamto, jurnalis dan praktisi komunikasi Cheta Nilawaty, serta perwakilan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (GERKATIN) Sidoarjo, Ameilia Rizkyka Handayani.
Dalam sambutannya, Bagus Winarko menyampaikan bahwa tantangan penyandang disabilitas di era digital tidak hanya berkaitan dengan akses layanan, tetapi juga akses terhadap informasi dan ruang untuk menyampaikan aspirasi secara setara. Menurutnya, kemampuan membangun strategi komunikasi yang tepat menjadi bagian penting dalam memperkuat advokasi organisasi disabilitas.
“Strategi komunikasi yang tepat akan membantu suara penyandang disabilitas lebih mudah dipahami publik dan mendapat perhatian pengambil kebijakan,” ujar Bagus Winarko.
Sementara itu, Handoko Widagdo menegaskan bahwa pemenuhan akomodasi yang layak merupakan bagian penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif dan pelayanan publik yang setara. Ia menilai penguatan komunikasi organisasi disabilitas diperlukan agar kebutuhan nyata di lapangan dapat diterjemahkan menjadi isu publik yang mampu mendorong perubahan kebijakan.
Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta dari berbagai organisasi penyandang disabilitas di Kabupaten Sidoarjo. Peserta terlibat dalam sesi diskusi kelompok, pemetaan isu prioritas, hingga penyusunan rancangan strategi komunikasi organisasi yang lebih terarah dan berdampak.
Diskusi dipandu oleh Kemil Wachidah yang menilai komunikasi memiliki peran penting sebagai jembatan antara pengalaman kelompok disabilitas dengan proses pengambilan kebijakan. Menurutnya, pesan yang disusun secara jelas dan terstruktur akan lebih mudah diterima masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Dalam sesi gelar wicara, Sunarman Sukamto menekankan pentingnya menentukan isu prioritas dalam advokasi disabilitas. Ia menyampaikan bahwa komunikasi yang efektif tidak dapat membahas seluruh persoalan sekaligus, melainkan perlu fokus pada isu yang paling relevan dan berdampak bagi komunitas.
Dari perspektif media, Cheta Nilawaty menyoroti pentingnya menentukan audiens, pesan utama, dan pendekatan komunikasi yang tepat dalam proses advokasi. Menurutnya, strategi komunikasi yang terarah akan membantu sebuah isu memperoleh perhatian publik secara lebih luas.
Sementara itu, Ameilia Rizkyka Handayani membagikan pengalaman terkait pentingnya layanan publik yang lebih aksesibel bagi komunitas tuli, termasuk kebutuhan juru bahasa isyarat sebagai bagian dari akomodasi yang layak.
Sebagai penguatan materi, tim INOVASI turut memaparkan hasil media monitoring periode Januari–Juni 2026 yang menunjukkan bahwa organisasi penyandang disabilitas masih perlu memperkuat kapasitas komunikasi agar isu-isu yang diperjuangkan dapat lebih konsisten hadir di ruang publik.
Melalui KBK Seri 2 ini, setiap organisasi peserta didorong menyusun rancangan strategi komunikasi sebagai panduan advokasi ke depan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat komunikasi publik yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak, sehingga suara penyandang disabilitas tidak hanya terdengar, tetapi juga mampu mendorong perubahan nyata di masyarakat. (YA)
Label
sosialisasi, disabilitas, komunikasi, blsdm komdigi surabaya